Keceriaan We Share We Care Clavis Indonesia di Jagad Alit Waldorf

Siang itu cuaca Bandung tidak bersahabat. Hujan sudah mengguyur sejak beberapa hari yang lalu. Tak jarang hujan datang pagi hari sampai siang, reda sesaat kemudian turun lagi sore hari. Persiapan bersama rekan-rekan di Jagad Alit Waldorf sudah memperhitungkan risiko hujan, baik hujan kecil, hujan sedang, dan hujan besar sekalipun. Tenda dipasang untuk mengantisipasi hujan besar. Beberapa setting lokasi untuk tempat bermain yang membutuhkan konsentrasi mengambil ruangan yang lebih besar di dalam kelas. 

Pustakalana sebagai kolaborator yang menjadi ruang alternatif membaca buku anak-anak di tempatkan bersebelahan ruangan bersama Tokecang dan Jagad Alit Waldorf. Sisanya di luar. Permainan tradisional, membuat mainan, mewarnai layang-layang, semuanya berada di luar.
Acara bertajuk We Share We Care Clavis Indonesia ini berjalan sesuai rencana. Pengunjung berdatangan tepat waktu. Hujan! yah ini yang dikhawatirkan sejak masa persiapan ternyata hanya turun sesaat. Setelah itu reda dan acara berlangsung ramai. Setiap sesi bisa dilewati semua peserta dengan baik.

We Share We Care Clavis Indonesia (Iden Wildensyah)

We Share We Care Clavis Indonesia ini dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober 2016 di Jagad Alit Waldorf bersama Pustakalana dan para pegiat pendidikan altenatif lainnya. Hadir para orangtua yang peduli pada bacaan anak seta komunitas pendidikan  seperti komunitas homeschooling, pegiat diskusi alternatif dan pecinta buku. Para orangtua yang hadir bersama anak-anak bersatu padu ikut bermain. Mulai dari melukis, bermain egrang, bermain bola tenis dan bambu, dan masih banyak lagi. 

Bermain Egrang (Iden Wildensyah)

Sangat menarik dan meriah! Lebih dari itu permainan siang itu sangat bermakna membangun hubungan emosional antara anak dan orangtua. Sebut saja main Jajangkungan atau Egrang, main jajangkungan buat anak-anak ternyata membutuhkan keseimbangan, buat orangtua butuh kekuatan untuk menahannya. Tak sedikit yang jatuh tetapi tidak menyurutkan niat untuk belajar lagi memainkan dengan baik.

Bemain bola tenis meja dan bambu (Iden Wildensyah)
Lain dengan egrang, di sisi yang lain ada yang bermain bola pingpong yang harus dimasukan secara bersamaan bolanya sebanyak dua bola. Butuh ketelitian dan kesabaran agar mendapatkan posisi yang tepat sehingga jatuhnya bola tepat di dalam bambu yang menjadi target.

Mewarnai Layangan (Iden Wildensyah)
Mewarnai layangan juga sangat menarik, anak-anak begitu antusias untuk mewarnai sesuai dengan warna dan pola yang mereka inginkan. Mewarnai layangan sangat menyenangkan untuk anak-anak.

Membuat ketupat (Iden Wildensyah)
Membuat mainan tradisional di sudut yang lain diikuti bukan saja oleh anak-anak tetapi juga oleh orangtua. Banyak yang begitu antusias mengikuti instruksi dari akang-akang yang memandunya. Bukan hanya ketupat tetapi ada juga mainan yang dibuat dari daun kelapa muda ini seperti belalang, dan lain-lain.

Pojok Tokecang dan Jagad Alit Waldorf (Iden Wildensyah)
Pojok dongeng Jagad Alit dan Tokecang, di pojok ini anak-anak diajak untuk sesekali melihat properti dongeng yang sering dilakukan oleh para guru di Jagad Alit Waldorf. Properti dongeng yang dibuat dari bahan-bahan alamiah mengundang ketertarikan anak untuk memainkannya. Mereka begitu senang memainkan dan berimajinasi dengan bahan yang ada.

Pustakalana (Iden Wildensyah)
Di pojok baca Pustakalana anak-anak diajak untuk membaca buku anak-anak yang menarik. Ada juga yang dibacakan bukunya sambil melihat-lihat gambarnya. Pustakalana yang konsen dalam membangun kesenangan membaca untuk anak-anak di Kota Bandung selalu berkontribusi untuk mengampanyekan kesenangan membaca ini kepada orangtua dan anak-anak. Sore itu, Pustakalana begitu asyik melibatkan dalam setiap sesi diskusi buku bersama Paulina Oud sang penulis dan ilustrator buku dari Belanda.

Berbagi Proses Kreatif Pauline Oud
Pauline Oud Sedang Diskusi Proses Kreatif

Pauline Oud seorang penulis dan ilustrator buku Clavis International datang khusus di acara ini We Share We Care Clavis Indonesia. Pauline memberikan banyak sekali inspirasi menulis untuk semua peserta yang datang. Inspirasi menulis yang begitu bermakna. Pada sesi itu, Paulina juga membeberkan proses kreatif dibalik karya-karya bukunya yang melegenda. Tokoh Lily dan Milo yang sudah diterbitkan dalam berbagai bahasa di negara ini memberikan contekan yang menarik. Dalam cerita Lily dan Milo, tema-tema sederhana seperti kegiatan keseharian dari pagi sampai malam dibuat pertamakali lewat coretan tangannnya. Setelah itu discan dan dicetak. Dalam proses scan, ia hanya memantau kualitas gambar sesuai dengan gambar aslinya. Oh iya, ia memastikan bahwa semua gambar yang dibuat tangannya sama persis dengan hasil cetakannya. 

Pauline Oud memberi gambar dan tandatangan untuk anak-anak yang hadir (Iden Wildensyah)

Sesi yang menarik setelah diskusi adalah berinteraksinya Pauline Oud bersama peserta diskusi. Ia menjawab semua pertanyaan yang disampaikan peserta dengan baik. Di akhir sesi itu sebelum pulang ia menandatangi kartu pos khusus edisi Lily dan Milo. Begitu juga untuk buku karya dia yang dibeli langsung oleh peserta diskusi.



2 komentar: