Margi Wuta: Mengapresiasi Kedalaman Sebuah Teater Tak Biasa

Telat sehari dari jadwal yang sudah ditentukan tidak menyurutkan saya untuk datang ke pementasan Margi Wuta di Auditorium Wyata Guna di Jalan Pajajaran, Bandung. Hujan yang turun siang hari selepas pukul 12 ternyata tidak berlanjut di sore hari. Selepas acara di Jagad Alit Waldorf, saya meluncur ke Wyata Guna pukul 17.00 berharap masih bisa mengikuti acara tepat pukul 17.00 itu. Sayangnya meleset dari perkiraan. Seorang panitia memberitahu saya tentang pertunjukan selanjutnya pukul 18.30. Ya sudah, satu setengah jam saya gunakan untuk menunggu sambil membaca buku dan sholat maghrib terlebih dahulu.

Lima belas menit menjelang registrasi, saya sudah berada di pintu masuk ruang pertunjukan. Selesai registrasi kemudian semua hadirin yang diberi tanda merah di lengannya dipersilahkan masuk tanpa bersuara. Beberapa hadirin yang berusia muda sesekali bercengkerama dengan teman-temannya. “Wah ini kita mau diapain yah?” setengah berbisik kepada teman-temannya. “Nanti kamu akan dibawa ke panggung lho” Teman yang lain menimpali setengah bercanda.

Suasana terasa sangat senyap ketika panitia mengondisikan hadirin. “Ini peraturannya” satu dua tiga empat sampai lima kalau tidak salah aturan dibacakan. Intinya agar pertunjukan berjalan lancar dan tujuan dari pementasan malam itu tercapai. Saya tentu saja ikuti semua instruksi itu, instruksi yang mengingatkan saya kepada cara yang dilakukan di kelas jika ingin pesan sebuah cerita sampai kepada anak didik.

Mata ditutup kain hitam, tak ada cahaya yang masuk. Hanya kegelapan yang melingkupi. Hadirin berjalan sambil berpegangan satu sama lain. Persis seperti suasana orientasi mahasiswa. Satu persatu diarahkan ke tempat duduk. Suara musik latar terdengar. Hadirin dibawa ke imajinasi masing-masing. Dialog mulai terdengar dan seketika itu bayangan adegan, lakon, tokoh, alur, suasana dan segala hal yang biasa ditampilkan hadir dalam imajinasi.
Mengalami teater di pementasan Margi Wuta (Iden Wildensyah)

Ini sangat berbeda dengan suara yang keluar dari radio atau tape recorder. Ini suara asli dengan adegan asli yang ada tepat di sekitar hadirin. Terasa tak ada sekat apapun, hadirin seolah diajak merasakan sensasi imajinasi yang luar biasa indah, memukau, dan keren minta ampun. Seorang bapak dengan suara yang berwibawa, seorang ibu dengan suara halus setengah cerewet untuk mengomentari hal-hal yang detail terjadi di televisi semacam tayangan live persidangan kasus Mirna.  Beberapa anak muda yang sedang berani-beraninya melawan orang tua, dan seorang gadis dengan suara merdu bak penyanyi sungguhan yang dengan penuh penghayatan menyanyikan lagu Eternal Flame. Suara-suara mesin yang menderu menjadi kekuatan yang menarik untuk membuat tenggelam para hadirin dalam pertunjukan yang sedang berlangsung.

Melibatkan peserta dalam proses berteater adalah hal umum yang sering dilakukan oleh pegiat teater. Saya masih ingat dahulu saat menonton pementasan teater Lakon yang disutradarai oleh Gusjur Mahesa, aktor dan aktris yang mentas melakukan bentuk kolaborasi pementasan yang unik juga dengan mencoba meraih penonton agar merasa terlibat dalam pertunjukan teater. Nah, kini saat menonton Margi Wuta, sensasi merasakan teater itu muncul kembali dengan bentuk yang tentu saja sangat berbeda.
Sebuah setting teater yang menarik di pementasan Margi Wuta (Iden Wildensyah)
Adalah Teater Gardanalla yang menyelenggarakan pementasan teater ini, bekerjasama dengan Teater Wyata Guna. Margi Wuta merupakan kolaborasi Joned Suryatmoko dan Ari Wulu. Dalam pengantar pementasan, Joned Suryatmoko menuliskan “Margi Wuta saya tawarkan sebagai karya teater dimana pada akhirnya para pemain difabel netralah pihak yang dapat melihat. Kegelapan yang menjadi pintu utama memasuki pengalaman teater ini adalah dunia sehari-hari mereka. Kemampuan mereka merasakan, mengenali, dan memahami ruang sangat unggul. Mereka saya anggap sebagai salah satu (atau mungkin satu satunya) pihak yang dapat membantu kita menegaskan teater sebagai pengalaman”mengalami” kini-di-sini, dan bukan melulu ‘menonton’. Sampai di sini saya berpikir, bagaimana jika pengalaman ‘mengalami’ itu termasuk pengalaman ‘digelapkan’ secara auditif lewat kemunculan deru pesawat, dimana kita kehilangan akses mendengarkan. Padanannya, bayangkan Anda sendiri mengalami mati lampu tengah malam”

Yah, itu sebuah pengantar yang menarik tentang padanan untuk kita yang terbiasa dengan terang benderang cahaya kemudian merasakan gelap gulita dan hanya mengandalkan indera lain untuk bisa mengetahui dan memahami keberadaan kita dalam ruang yang ada saat ini.

Oh iya satu lagi, lagu yang terus menerus terngiang dalam kepala saya yang dibawakan sebagai bagian dari pementasan ternyata memiliki cerita yang menarik. Joned menuliskan untuk hal ini “Lagu ‘Eternal Flame’ yang kami temukan dalam latihan (sebagai lagu yang paling mereka sukai) dimaknai ulang untuk melihat hubungan masyarakat umum dan difabel netra yang cenderung patron-klien dalam konser amal dan praktik empatik lainnya”

Buat saya yang mendengarkan lagu itu selama pertunjukan, rasanya sangat menonjok ke dalam. Bahwa demikianlah bisa jadi harapan mereka kepada kita. Jangan hanya jadi mimpi mereka saja. Bukakan mata kita untuk membantu mereka lebih dari sekadar menunjukan arah jalan saja tetapi lebih dari itu. Margi Wuta membuat saya merinding diakhir pertunjukan. Tak sungkan untuk menyalami dan mengatakan “saya kagum pada anda, anda hebat sekali, semua yang terlibat di sini hebat sekali, apresiasi yang besar dari saya!” Inilah sebentuk kecil apresiasi untuk teater tak biasa yang mampu memberikan banyak sisi-sisi lain untuk semua hadirin dan juga penonton yang terlibat malam itu. Salute!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar