Melihat Kuasa, Intrik, dan Nafsu kekuasaan di Ladang Binatang

Saat kau berada di depan, yang di belakangmu akan mengikutimu kemanapun kau pergi, tapi jika sesuatu yang buruk terjadi, kau yang pertama yang akan merasakan dampaknya. Saat kau berada di belakang, kemungkinanmu untuk menyelamatkan diri jauh lebih besar jika sesuatu yang buruk terjadi, tapi selama kau berada di belakang hidupmu akan tersiksa karena kau harus selalu mengikuti yang berada di barisan terdepan.
Jadilah yang berada diantara mereka, jadikan yang di depanmu sebagai tameng dan yang di belakangmu sebagai senjata. Buatlah dirimu tak terlihat maka kau tak akan tersentuh.

Tidak ada pilihan dalam kehidupan ini selain berada di depan atau berada di belakang. Menjadi pemimpin yang siap dijatuhkan atau menjadi pengikut yang tidak bisa apa-apa selain patuh kepada pemimpinnya. Itulah gambaran sedikit tentang teater yang berjudul Ladang Binatang dari karya George Orwell yang disadur oleh Kamil Mubarok. Buku yang juga pernah difilmkan dengan judul yang sama yaitu Animal Farm ini diangkat dalam sebuah pementasan teater yang apik oleh Teater Lakon di Gedung Amphiteater Universitas Pendidikan Indonesia, Jumat 11 November 2016.
Dibuka dengan alur yang langsung menanjak, membawa para penonton untuk larut dalam setiap adegan. Penampilan para aktor dan aktris sore itu sungguh memukau, nyaris tanpa cela kecuali properti yang terjatuh tanpa sengaja serta pada beberapa dialog yang masih menggunakan kata manusia padahal mereka sedang memerankan binatang. Manusia selain Suto yang sudah diusir dari ladang. Misalnya ketika dalam salah satu adegan Napoleon dengan bangganya mengatakan “..... maka hari ini kita akan kuasai seluruh manusia di ladang ini!” 
Melihat Kuasa, Intrik, dan Nafsu kekuasaan di Ladang Binatang (Iden Wildensyah)

Mereka Menyindir Manusia
Binatang peliharaan manusia yang memberontak, menuntut kemerdekaannya. Binatang di dalam cerita Ladang Binatang bukan sekadar binatang. Mereka adalah binatang yang tahu pentingnya berserikat, berkumpul, berkehendak,, mengorganisir kelompoknya. Mereka ada di sekitar kita. Lewat binatang yang hadir dalam tiap adegan, kenyataanya itu hanyalah sebuah sindiran untuk manusia.
Sejatinya binatang yang ada dalam kisah tersebut adalah manusia-manusia yang sesungguhnya. Ketika kemerdekaan sudah berhasil diraih selanjutnya adalah rebutan kekuasaan untuk memegang kendali siapapun yang ada di dalam pengaruhnya. Persis seperti Napoleon yang merebut kekuasaan dari Snowball. Sosok seperti yang digambarkan Napoleon banyak bertebaran di sekitar kita. Tidak bekerja keras tapi teriak lantang ketika berhasil meraih sesuatu. “Akulah pemimpin kalian, karena aku kalian bisa merdeka” selanjutnya sedikit demi sedikit beralih dan menggulingkan kekuasaan baru.
Anjing! Jangan lupakan perannya dalam cerita itu dan kehidupan manusia pada umumnya. Anjing penjaga kekuasaan akan selalu melindungi majikannya. Ia dipelihara sedemikian rupa untuk melanggengkan kekuasaan. Siapapun yang berteriak akan dilawan dan digonggongnya sampai ketakutan melawan. “Sini kau, anjing!” adalah kata yang paling menarik untuk disimak dan enak didengar setidaknya mendengar anjing sebagai binatang atau sebutan kasar untuk orang lain.
Snowball, Napoleon dan anjingnya ternyata bukan siapa-siapa karena salah satu aktor terbesar dibalik keduanya adalah seekor keledai dan burung gagak! Mereka berdualah dalang yang mengendalikan semua binatang. Memecah belah kedua pihak kemudian mengadukannya agar terjadi kekacauan. Jangan lupakan Keledai tua tersebut ada dalam lingkungan terdekat kita. Mereka yang mengendalikan kekuasaan untuk kepentingannya. Sementara burung gagak! Ia yang mengawasimu setiap saat. Gerak-gerik kita di mana pun, kapan pun akan terus diawasi olehnya.
Siapa yang berkuasa untuk menjajah orang lain, siapa yang memiliki intrik dan nafsu kekuasaan sebenarnya sangat sulit ditentukan dalam kehidupan nyata tapi itulah kenyataan yang terjadi. Ada kekuasaan yang menjerat siapapun yang mau terjun dalam lingkaran setan. Ada intrik untuk saling mengalahkan dan melanggengkan kekuasaan atas kekuasaan lainnya dan ada nafsu yang akan terus mendorong siapapun agar tidak merdeka. Merdeka hanya menjadi angan-angan saja karena tidak ada satupun yang berhasil membangun kemerdekaan sejati. Merdeka, mulai saja dari dirimu!
Musik dan Nyanyian
Seandainya musik dan nyanyian tidak ada, pementasan sore itu akan terasa sangat hambar dan menjemukan. Bersyukur sutradara dan tim kreatifnya mampu mengemas pertunjukan menjadi lebih mudah dicerna dengan memainkan ritme yang menarik. Lirik dalam lagu lagu serta melodi yang menyerupai mars-mars lagu militer benar-benar menarik. Seperti sedang mendengarkan nyanyian propaganda dan sebagainya. 
Nyanyian itu menolong beberapa pemahaman setidaknya buat saya untuk mengaitkan sisi-sisi yang sulit dicerna lewat adegan teatrikal. Mengaitkan satu adegan dengan adegan lainnya bukanlah hal yang mudah. Butuh pemahaman mendalam tentang alur, cerita, dialog yang disampaikan para aktornya, dan segala aspek yang ada dalam pertunjukan seperti latar panggung, pencahayaan dan lain-lain.
Apresiasi yang besar untuk semua pihak yang sudah menghadirkan sebuah pementasan menarik dan menyenangkan. Di luar itu semua, penonton yang hadir disuguhi hiburan yang mendidik dan mencerdaskan. Mari kita tunggu pementasan Teater Lakon selanjutnya dengan kemasan ide dan cerita yang pasti lebih menarik!


1 komentar:

  1. Seru sekali

    blogwalking
    http://www.bangmisno.web.id/2015/08/langkah-scan-file-f4-atau-a3.html

    BalasHapus