"Jadi salah gue, salah teman-teman gue?" Peradaban
memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Seringkali
istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang
"kompleks": Dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan
pemukiman, berbanding dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban akan
disusun dalam beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hierarki
sosial.
Diskusi ini sebenarnya perbincangan biasa saja antara saya
dengan seorang teman di sore menjelang pulang. Pemikiran dia lumayan menarik,
ketertarikan saya berawal dari penelitian dia tentang Bandung pada tahun 1907
sampai 1920-an. Saya memancing dengan mencari alasan realitas saat ini.
Misalnya apakah pada waktu itu warga kota sudah tergerus hedonisme? Jawabannya
sangat mencengangkan.
Yah! Jaman itu memang Belanda masih di Indonesia, tetapi
gaya hidup sudah mulai menjalari warga pribumi yang ada di sekitarnya. Warga
yang hidup pada jaman itu mulai tergerus modernisme dengan menanggalkan
cara-cara tradisional dalam bertindak, bergaya pakaian, berbicara, dan
lain-lain. Modernisme dibawa dengan pemutaran film. Film sangat fenomenal
karena mampu mengubah segala bentuk tradisionalisme menjadi bentuk modernisme.
Industriawan mengenalkannya dalam bentuk pembangunan gedung-gedung bioskop di
berbagai sudut kota.
Tentu saja dengan pengkastaan antara pribumi dan non
pribumi. Kesenian tradisional mulai tersingkirkan oleh industri film. Film
kemudian membawa gaya hidup, cara berpakaian, dan gaya-gaya lainnya yang
diterima sangat cepat oleh penonton pada saat itu. Terpenting bukan saja gaya
hidup yang menjadi berubah tetapi pola pikir yang mulai meninggalkan tradisi
yang berkembang pada waktu itu. Jalan ke bioskop adalah sesuatu yang keren, tak
peduli film apa yang ditonton, yang penting pergi ke bioskop. Kongkow-kongkow
dan memberikan cerita film bagi mereka yang belum menonton film adalah sesuatu
yang keren.
![]() |
| Bioskop Apollo (inimagz.com) |
Terbayang memang keren, karena media belum sekencang
sekarang. Kongkow ke bioskop itulah yang menjadi masalah ketika intinya bukan
lagi menonton. Yang penting pergi ke bioskop tak penting filmnya apapun. Lalu,
apa hubungannya dengan peradaban? Film membawa informasi tentang kemajuan
teknologi dan pesatnya industri di barat.
Stereotif bahwa barat paling maju dan timur terbelakang
menjadi sangat kental. Berlomba-lombalah kemudian untuk menjadikan dirinya
sebagai bentuk kemajuan industri barat. Stereotif ini kemudian sedikit demi
sedikit menyingkirkan kebaya, iket, yang berganti menjadi celana jeans, topi,
dll. Kebaya, iket berarti ketinggalan jaman. Sudah, saya merenung sebentar
"Jadi salah gue, salah teman-teman gue?"

wah, kasihan bioskop masa lalu yah... lama-lama televisi juga hilang oleh internet, datang yutub juga :)
BalasHapus