Floating Village atau Floating Kampong atau Kompong Phluk adalah sebuah tempat di Kamboja yang merupakan bagian tujuan wisata di Siem Reap. Rerata mereka menghabis waktu di Siem Riep untuk melihat matahari terbit di Angkor Wat kemudian melihat matahari terbenam di Kompong Phluk. Angkor Wat biasanya menjadi tujuan utama, Angkor Wat yang didirikan oleh murid Syailendra yang berhasil membangun Candi Borobudur di Indonesia.
Bukan semata-mata
berwisata ke Kompong Phluk, tetapi misi pendidikan. Yah, saya bersama seorang
teman melakukan ini setelah awak kapal yang membawa kami ke tengah danau
mengarahkan perahunya ke sebuah sekolah yang bernama Pre-School The Catolic
Church Chong Khnes. Sekolah terapung di Tonle Sap. Tonle Sap adalah sebuah
danau air tawar yang besar di Kamboja yang merupakan gabungan dari sungai dan
danau besar. Danau ini terhubung dengan Sungai Mekong di Phnom Penh.
Sekolah di Kampung Terapung ini menampung anak-anak yang yatim
yang orangtuanya meninggal karena badai, topan, dan bencana lainnya saat mereka
mencari ikan ke tengah danau yang maha luas. Sebagai guru, tentu saja tantangan
mengunjungi anak-anak di sekolah terapung itu sangat menggugah. Maka bersiap
dan berbekal kemampuan mendekati anak-anak, kami memberanikan diri untuk berada
di tengah-tengah mereka pada hari itu.
![]() |
| Suasana Kampung Terapung di Siem Reap, Kamboja (inimagz.com) |
Sebelum mencapai lokasi yang disebutkan, Kompong Phluk,
perjalanannya sungguh sangat menantang. Dengan diantar perahu boat bersama
seorang teman dari Siem Riep yang membawa kami bersama kendaraan khas-nya yaitu
Tuk Tuk, kami melaju bersama dengan banyak rombongan juga yang akan menuju
tengah danau.
Bulan Maret 2013, Kamboja sedang memasuki masa kemarau.
Cuacanya sangat panas, air putih mahal harganya, dan sungai yang menjadi akses
jalan menuju Kompong Phluk mulai terasa mendangkal. Beberapa kali perahu yang
kami tumpangi tersendat jalannya dan kru perahu bersiaga untuk menggiring ke
arah yang lebih dalam. Setiap kali bertemu dengan kapal dari arah berlawanan,
setiap kali itu juga kru kapal harus mendorong ke arah sungai yang dalam.
![]() |
| Perahu yang mengangkut kami menuju floating kampong (inimagz.com) |
Selama perjalanan, kami melihat hilir mudik para penduduk
Kompong Phluk dengan terampil menggunakan perahu kecilnya beraktivitas melewati
perahu yang kami tumpangi. Sepanjang perjalanan, kami melihat batas-batas
ketinggian air jika musim penghujan. Menurut seorang pengantar, jika hujan
ketinggian bisa lebih dari 5 meter sambil menunjukkan ke arah pengukur ketinggian
yang sesekali kami temui di kiri atau kanan kami.
Selepas sungai, terbentanglah dengan luas Danau Tonle Sap
yang sangat luas. Beberapa rumah terapung sudah bisa kelihat dari jauh.
Beberapa lembaga dunia seperti UNICEF tampak bisa terlihat dari tulisannya yang
terpampang jelas di sebuah bangunan terapung. Sumbangan itu berupa bangunan
sekolah terapung.
Sebelum menuju sekolah, perahu yang kami tumpangi singgah
sejenak di Floating Market. Sebuah mini market sederhana yang menyediakan
kebutuhan para penduduknya. Di Floating Market, kami bertemu seorang Volunteer
dari Afrika yang mengajar bahasa Inggris di sekolah terapung. Dari dia, saya
mendapatkan gambaran tentang anak-anak yang akan bersama kami di sekolah.
Kondisi psikologisnya dan juga keadaan keluarganya yang meninggal karena badai
atau juga topan di tengah danau dan menghilang tanpa kembali.
![]() |
| Bernyanyi bersama anak-anak sekolah di Floating Kampong (inimagz.com) |
Setelah membeli beberapa bahan pokok seperti beras dan air
bersih, kami melaju ke sekolah tersebut. Oh iya, air bersih. Walaupun berada di
danau yang berlimpah air, tetapi air minum sangat langka. Air minum kemasan
sangat mahal. Hal ini sebenarnya membuat saya berpikir tentang keajaiban yang
Maha Kuasa. Air minum yang langka di tengah air danau yang jumlahnya melimpah
ruah. Sesampainya di sekolah, kami disambut oleh seorang guru yang mendampingi
mereka. Sayangnya kemampuan bahasa Inggris yang terbatas membuat kami tidak
bisa menggali banyak informasi dari dia. Berbeda dengan anak-anak, kami
menggunakan bahasa universal yaitu bernyanyi. Kami mengajak mereka bernyanyi
sederhana sebuah lagi dari Afrika yang nada dan melodinya sangat mudah. Dan
ahaaa.. semua antusias bernyanyi dan menari bersama kami.
![]() |
| Pre-school The Catolic Church Chong Khners (inimagz.com) |
Di Pre-School The Catolic Church Chong Khnes, ada sekitar 20
orang anak. Mereka yang belajar bersama-sama setiap hari di tengah danau.
Merasakan suasana belajar bersama mereka adalah pengalaman yang sangat
berharga. Berbagi energi belajar dan semangat berbagi untuk anak-anak sangat
terasa di sekolah ini. Setiap waktu sekolah ini membuka kesempatan kepada para
Volunteer untuk bergabung dan mengajar anak-anak di Kompong Phluk. Mereka
adalah anak-anak yang juga berhak mendapatkan keceriaan dan kebahagiaan di
dunia. Pancaraan energi positif pembelajaran sangat terasa dari mata mereka.
Semangat untuk terus mencari ilmu dan berbagi kebaikan.
Setelah selesai beraktivitas bersama mereka, saatnya
berpamitan pulang. Pulang adalah bagian yang tetap harus bisa diterima oleh
semua. Bahkan oleh anak-anak dan kami. Walau rasanya sedih, tetapi ada sedikit
kebahagiaan karena sudah belajar bersama mereka di tempat yang tidak biasa.




Perahunya kecil gitu. Ngeri ngeri sedap dong berlayar diatasnya.
BalasHapusTerus, itu air danau memang nggak layak untuk dikonsumsi atau bagaimana?
iya mbak, perahunya memang kecil dan air danau tersebut sangat gak layak untuk diminum. Rasanya payau dan warna kecoklat-coklatan gitu kayak banyak tanahnya :)
Hapus